Kebahagiaan hanyalah masalah perasaan, dan standar kesuksesan hanyalah masalah perspektif.

Ketika masih kecil, sering sekali kita dijejali dengan impian-impian yang orang (baik itu orang tua, guru-guru, tokoh idola, dan kelompok sosial) berusaha tanamkan, agar kelak nantinya kita berusaha dengan keras agar selalu berada di jalur-jalur yang berujung pada gerbang impian tersebut. Mulai dari membekali diri dengan pendidikan, motivasi, mengasah bakat dan kemampuan, atau tindakan-tindakan secara sengaja yang mengarahkan seseorang pada impian tersebut.

Saya baru-baru ini menyadari bagaimana peran sosial mempengaruhi perilaku dan cara berfikir sesorang. Saya masih ingat, di lingkungan saya, sering sekali berusaha mempengaruhi seorang anak untuk menjadi dokter karena akan berpenghasilan banyak, sementara menjadi pendeta identik dengan pelayan. Bekerja di perusahaan asing bergaji mata uang dollar akan lebih dihormati dibandingkan guru yang sebenarnya tugas nya sangat mulia. Seolah olah ukuran kesuksesan adalah finansial dan jabatan. Sepertinya setiap orang diberikan label oleh ukuran-ukuran tersebut.

Di masyarakat pun perlakuan pada label tersebut begitu kentara. Saya ingat ketika SMP, sekolah paling elit di daerah saya, sepertinya sudah menjadi lumrah, menanyakan status pekerjaan orangtua pada hari pertama masuk sekolah. Dan pertanyaannya pun terkesan janggal. “Siapa disini orangtuanya bekerja sebagai anggota DPRD? Kepala Bagian? Kepala Dinas?”. Saya masih SMP saat itu sudah merasa ada yang tidak beres. Bukankah hal itu tidak etis? Bayangkan, setiap anak yang orang tuanya tidak termasuk pada golongan tersebut hanya bisa memandang pada temannya dan terdiam. Saya bisa pastikan, kebanyakan murid yang terdiam merasakan iri, karena orangtuanya bukan bagian dari kelompok elit tersebut.

Kondisi kondisi ini bukan hanya terjadi di sekolah. Di lingkungan adat bahkan di lingkungan agama pun bisa terlihat jelas. Orang-orang yang memiliki jabatan, kedudukan, atau harta akan diperlakukan begitu hormatnya dan begitu istimewanya. Dijadikan yang utama, dan menjadi tolak ukur penambilan keputusan dalam kelompok.

Adanya kesenjangan inilah yang menimbulkan anggapan yang sering kali bias akan kesuksesan dan keahagiaan. Mereka yang bukan berasal dari golongan elit itu, sering kali berpikir dan berusaha untuk ‘balas dendam’ akan kemiskinan, masa lalu, ketiadaan status dalam sebuah kelompok sosial, ketiadaan benda yang menjadi tolak ukur, sehingga melakukan segala cara untuk mewujudkan aksi balas dendam tersebut.

Saya menyadari sekali lagi, ketika kuliah, mahasiswa sering dituntut untuk aware akan masalah kemanusiaan, masalah kenegaraan, moral, integritas, atau masalah sosial lainnya sehingga melahirkan kelompok yang idealis. Mahasiswa yang bisa dikatakan bebas dan hippie itu, tidak terikat apa-apa, sehingga masih netral dan merasa bebas menyuarakan apa yang dianggap benar sesuai dengan jalur-jalur ketentuan, norma, dan dokma. Tapi, ketika akhirnya lulus dan mulai bertarung di dunia nyata, tuntutan-tuntutan label sosial tadi kembali mengusik dan membuat arah dan tujuan hidup menjadi bias.

Ketika kuliah menyorot kebijakan-kebijakan masuknya perusahaan asing, tapi akhirnya bekerja di perusahaan asing karena label tadi. Ketika kuliah mengusik kebijakan yang berpihak pada pemilik modal dan menyengsarakan petani atau merusak lingkungan, namun akhirnya justru bekerja bersama pemilik modal, bukannya turun dan berjuang bersama petani atau memperjuangkan lingkungan. Pada akhirnya menepis idealisme dan mengabaikan hati nurani.
Semua semata-mata karena adanya persepsi yang salah akan kesuksesan tadi. Semata-mata karena label yang diberikan ke orang lain. Seolah olah, sukses itu jika memiliki sesuatu, bekerja di tempat tertentu, memiliki penghasilan kisaran tertentu, dan menjadi golongan elit tertentu.

Padahal, kesuksesan adalah perspektif. Tidak ada ukuran atau standar bakunya. Padahal, kebahagiaan hanyalah masalah perasaan bukan karena bagaimana keadaan dan kondisi saat ini.
Lagi pula, bukan karena sukses maka kita bahagia, tapi karena bahagia maka sukses. Bukan karena bekerja dengan suatu jabatan dan berpenghasilan tertentu maka akan bahagia, tapi karena menikmati dan mensyukuri setiap jengkal dan waktu kehidupan yang ada.

Sukses hanya lah sukses jika itu adalah bahagia.

Advertisements