Sepanjang jalan raya dramaga-kampus, kemacetan hari ini luar biasa parah dibandingkan hari-hari lainnya. Tapi kemacetan ini tampak berbeda. Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang menggerutu, tidak ada bunyi klakson dari pemilik mobil-mobil pribadi (yg biasanya songongnya aduhai). Sepertinya semua orang sedang berbahagia. Dan memang terlihat jelas, hampir semua orang mengenakan baju baru. Jelas sekali. Mulai dari lipatan baju yang kaku, warna yang masih mentereng dan silau, model terkini, dan baunya itu loh khas banget, bau pabrik. Sepertinya ada korelasi positif antara baju baru dengan kebahagiaan.

Baju baru bukan hanya trend saat lebaran. Berbagai agama di dunia sering sekali menandakan perayaannya dengan baju baru. Dan tidak ada standar baku atau ketetapan bahwa perayaan hari besar harus dibarengi dengan baju baru. Namun sepertinya sudah menjadi tradisi khusunya di Indonesia, merayakan hari besar dengan baju baru.

Fungsi baju sejatinya adalah sebagai ‘tutupan’. Melindungi tubuh secara fisik dan juga secara moral. Namun, tanpa kita sadari, baju sering kali menjadi identitas bagi sesorang. Sering kali kita menilai sesorang dari cara berpakaian, jenis dan paduannya, warna dan modelnya nya hingga merek dan harganya. Bahkan dikalangan profesional ada ungkapan terkenal : dress for the job you want, not the want you have. Betapa peran baju/pakaian begitu besar dalam kehidupan sosial kita. Dan memang dalam pasar saat ini, trend bisnis yang berkembang dan diminati adalah baju/fashion. Seakan tak ada matinya.

Karena baju adalah identitas, maka baju baru (meskipun tidak ada defenisi pasti mengapa dan untuk apa) sering diibaratkan dengan identitas baru. Baju baru menjadi simbol mengenakan identitas baru, memasuki babak spiritual baru (babak kehidupan baru setelah melewati ujian puasa selama 30 hari misalnya). Sehingga baju baru sering menandai dengan lahirnya semangat baru dan energi baru untuk menghadapi hari baru. Saya sering melihat, banyak orang sakit yang mendadak sembuh karena dibelikan baju baru. Banyak orang yang berusaha keluar dari keterpurukan hidup dengan membeli baju baru dan mengubah penampilan (selain gaya rambut baru). Seakan baju baru memiliki roh yang sanggup menjadikan hidup baru.

Lalu, haruskah berbaju baru tiap hari agar hidup menjadi baru? Tentu saja tidak. (Bisa bangkrut abang dek :D) Baju baru atau identitas baru sebenarnya bisa disubstitusikan dengan cara berpikir baru, cara pandangan baru, kebiasaan baru, hobby baru, dan mimpi baru. Tidak perlu harus baju baru agar hidup baru. Dan tidak harus babak baru, bulan baru, tahun baru, dan hari raya kita ‘beridentitas’ baru. Setiap hari adalah fondasi bagi masa depan. Jika setiap hari kita mengenakan identitas baru tersebut, maka masa depan akan penuh dengan hal-hal yang jauh lebih indah dari sekedar hari perayaan hari besar. Jauh lebih indah dari sekedar memakai baju baru.

Dan bahagia bukan masalah situasi dan kondisi saat ini, tapi bagaimana menyikapinya. Bukan masalah mengenakan baju baru atau tidak, tapi cara pandang, pola pikir, dan cara menyikapi setiap hari yang menjadi anugerah baru dalam hidup.

Akhir kata : selamat hari lebaran. Hari baru, identitas baru. Identitas baru untuk hari baru 🙂

Advertisements