Hari ini satu orang lagi sahabat saya akhirnya lulus sidang untuk jenjang S1 nya. Saya ikut senang dan bangga karena saya tahu benar perjalanan hidup dan perjuangannya untuk menyelesaikan studinya. Berlatarbelakang dari keluarga yang terbatas secara finansial tidak menjadi penghalang baginya unyuk bermimpi mengcap pendidikan yang bagus. Di tahun-tahun awal sahabat saya ini sudah bekerja di warnet agar bisa memenuhi kebutuhannya, meskipun hal itu mengganggu studinya. Dan dia tidak malu. Dan hal itu tidak memupus mimpinya. Beruntung beberapa tahun belakangan ini, dia mendapat beasiswa dan sebagian rejeki dari PKMnya yang lolos sehingga dapat memenuhi kebutuhannya. Dan tak terasa, hari ini tepat 4 tahun, akhirnya dia lulus bahkan dengan IPK yang lebih dari cukup.

Sahabat saya yang lain, pernah bercerita dulu betapa  inginnya dia menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun, kondisi finansial orangtuanya tidak memungkinkan untuk itu. Tapi dia tidak ingin seperti perempuan2 seusianya di kampung yang bekerja sebagai SPG atau pramuniaga toko. Dia ingin kuliah dan bertekad memperbaiki hidupnya. Meskipun secara jujur orang tuanya mengatakan tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahnya, dia tetap memiliki impian dan bertekad untuk itu. Dan tanpa diduga, ada jalan yang terbuka baginya. Dia mendapat beasiswa penuh dari Kementrian Agama, bukan hanya biaya kuliah tapi juga bantuan biaya hidup yang jumlahnya cukup besar.

Satu sahabat saya yang lain juga memiliki kondisi yang sama. Keterbatasan finansial orang tuanya sebenarnya tidak memungkinkan dia untuk kuliah. Namun, dia selalu belajar keras dan bekerja membantu orang tuanya, melakukan apa pun agar dia bisa kuliah. Dia tidak malu bekerja “bersih-bersih” dan “helper” di kampus itu sendiri! Dia melakukannya demi mendapatkan bantuan biaya kuliahnya.

Setiap orang pasti ingin hidupnya lebih baik dari kondisi saat ini. Namun, setiap orang juga pasti menghadapi “gunung” rintangannya masing-masing. “Gunung” itu mungkin saja berupa keterbatasan finansial keluarga, kemampuan intelegency yang tidak diatas rata-rata, akses terbatas, kurangnya dukungan orang-orang sekitar, atau mungkin orang tua atau keluarga yang sakit-sakitan sehingga membatasi gerak dan mimpi. Bahkan ketidak pastian di hari esok pun sering kali menjadi rintangan mencapai impian tersebut. Di masalah perkuliahan misalnya : apakah orang tua saya masih cukup berezeki di hari esok, apakah saya bisa lulus dengan nilai yang diharapkan? Apakah saya mampu bertahan ataukah saya DO? Bagaimana dengan orang tua dan keluarga saya? Apakah mereka masih panjang umur sampai saya menyelesaikan studi saya? (Beberapa teman-teman saya kehilangan orang tuanya di masa studinya 😦 )

Namun, bukan hidup namanya jika tidak ada rintangan, tidak ada gunung persoalan. Persoalan pasti akan ada. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Masalahnya ada pada kita sendiri. Bukan masalah jenis dan ukuran persoalannya tapi bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita masih memiliki harapan? masih berani bermimpi? Atau menyerah dan mundur? Mengikuti kemanah arah angin berlalu?

Saya pernah membaca sebuah ungkapan. The greatest gift given to a man is hope. Karena ada nya harapan lah manusia tetap berusaha meskipun rintangan yang dihadapi begitu besar. Harapan yang memberi kekuatan untuk sembuh dari penyakit! Karena harapan lah manusia percaya bahwa segala jerih payah tidak akan sia-sia, semua akan indah pada waktunya, sehingga ia tetap bermimpi dan berusaha, tidak berhenti berusaha bangkit dari keterpurukan, kekelaman dosa, atau kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Dan harapan lah yang memberi energi positif bagi manusia untuk berusaha sampai akhir hayat hidupnya sebesar apapun gunung persoalan yang dihadapinya. Tidak ada yang lebih mampu mengerakkan manusia pada impiannya selain dari harapan itu. Itulah mengapa dikatakan sebagai hadiah terbesar. The greatest gift.

Tapi, baru-baru ini saya menemukan ayat menarik dari kitab Zakharia 12:10. Bahwa ternyata roh permohonan itu ternyata berasal dari Tuhan. Roh yang menggerakkan manusia untuk berharap (dan kemudian memohon pada Tuhan) adalah berasal dari Tuhan itu sendiri. Itulah mengapa ketika berada dekat dengan Tuhan kita merasakan kedamaian sejati, kita tidak pernah kehilangan harapan selagi Tuhan masih ada bersama kita. (Dan saya yakin penganut agama manapun merasakan hal yang sama, selama ia dekat dengan Tuahnnya).

Ketika saya merenungi dan mengingat kebaikan Tuhan, terutama 4 tahun belakangan ini dalam menyelesaikan studi saya, dan ketika saya mengingat pencapaian sahabat-sahabat saya, saya bersyukur atas pemeliharaan dan kesetiaaNnya. Saya bersyukur memiliki harapan yang membawa saya dan sahabat-sahabat saya melangkah sejauh ini. Dan seperti hari kemarin, saya percaya esok pun Dia menyertai saya, karena saya memiliki pengharapan di dalam Dia. Sekali lagi saya bersyukur untuk that greatest gift called HOPE!

Dan kamu pun, tetap lah berharap! 🙂

Advertisements