Katakanlah Anda sedang “diserang ehem-ehem” dengan seorang pria yang terti samting (30an), yang udah di deadline merid segera dan memiliki mimpi akan hidup di sebuah kota. Diluar dari kepribadian, prinsip, dan visinya, sebenarnya udah match dengan kriteria Anda. Hanya saja, jika bersama dengannya Anda akan mengorbankan mimpi Anda. Ya pernikahan adalah tentang pengorbanan bukan? Dua insan dengan tujuan dan mimpi yang berbeda kemudian dipersatukan, maka ada yang perlu disesuaikan dan “diperbincangkan” dulu. Satu sisi, ternyata dialah yang mampu menggetarkan hati Anda. Dialah yang Anda cari. Tapi satu sisi, mimpi dan kenaifan Anda sedikit mengerem hati Anda agar bisa tarik nafas dan berpikir rasional : apakah sebanding yang akan Anda dapatkan jika mengorbankan mimpi2 Anda hanya untuk bersama nya? Di satu sisi, jika melewatkannya, akan kah besok ada yang sebaik atau lebih “bagus” dari dia?

***

Dalam ekonomi ini sering disebut dengan Trade Off, kondisi dimana dengan adanya keterbatasan sumberdaya (baik itu uang, manusia, alam) sedang diperhadapkan dengan pilihan : akan digunakan seperti apa? Manakah impact yang akan lebih besar : dimanfaatkan untuk proyek A atau B? Atau tidak sama sekali? Ya contoh kecil nya saja : apakah sebaiknya sebuah lahan dijadikan taman kota atau dijadikan terminal? Kedua2 sama sama2 bisa memberikan pemasukan seprti retribusi. Taman kota cukup urgent mengingat fungsi ekologisnya, dan bnyak nya jomblo2 yang tidak punya tempat melampiaskan kesendiriannya 😅, kebersihan udara juga mendesak dan katakan lah dia melindungi aerasi kota. Tapi pembangunan terminal tak kalah penting, menyangkut pusat vital aktivitas di perkotaan. Jika lahan dan anggaran yang terbatas akan dialokasikan menjadi taman, akankah manfaat (benefit) lebih besar dari benefit dari Terminal? Atau akan kah cost nya akan lebih kecil? Bagaimana dengan manfaat yang gak terquantifikasi secara moneter seperti “nyaman dan bersih”? Akankah ini bisa bernilai lebih dri rupiah yang diperoleh dari pembangunan terminal?

***

Di injil, dilema ini diumpakan dengan harta terpendam di ladang. Orang rela menjual sluruh harta nya hanya agar bisa beli sepetak lahan yang ada harta di dalamnya. Atau orang yang kehilangan seekor domba kemudian meninggalkan sisa  domba nya – mungkin untuk mengerahkan smua tenaga dan fokusnya- hanya agar menemukan apa yang dia cari selama ini. Gak cuma Trade Off, gambling juga ada disini. Ya siapa yang tau kalo harta karun yang terpendam  akan lebih besar dri harta yang udah di jual? Siapa yang tau kalo seekor domba yang akan hilang akan ketemu? Dan, apakah benefitnya lebih besar dari “cost” yang dia korbankan – yang kayaknya jauh lebih besar?

***

Kalau kata pepatah kolot tapi awet : smua ada harga nya. Harus ada yang dikorbankan. Lalu pilih yang mana? Kalau teori ekonominya sih selama benefit lebih besar dari cost ya ambil aja. Kalau teori akuntansi nya ada pendekatan ROA dan ROI. Return on Investment (ROI) yakni selama investasi nya memberikan return yang lebih besar dibandingkan return dari investasi lain, ya prioritasin ke situ. (kata kasarnya : ngapain kuliahin anak di IPB kalo gajinya lebih kecil dari anak yang kuliah di perguruan tinggi Salam Kompak Selalu, semntara uang kuliah di IPB lebih mahal). Sementara Return on Asset (ROA) :  beli bajaj @ 10 juta. Mobil @100 juta. Dengan duit 100 juta bisa bli 10 bajaj atau 1 Mobil. Tapi kalo satu bajaj bisa ngasi margin @ 2 juta sementara mobil hanya 10 juta, ya bli bajaj dong..

***

Tapi hati ternyata gak sesimple Cost and Benefit Analysis. Gak sesimple rasio keuangan akuntansi. Walaupun bisa forecast kondisi keuangan korporasi dengan modal laporan keungan atau bikin RAB proyek yang tangible dan intangible (duh gaya banget), tapi kalo masalah hati ternyata hanya bisa bikin gigit jari walau sesekali nyengir kaya kuda.. Cengar cengir sendiri..

***

Urusan kayak gini aja pake rumus dan berbagai pendekatan. Jangan heran… Ah sudahlah.

Advertisements