Jadi, di ruang kantor yang berkapasitas 40an orang ini, ada tiga karakteristik orang jika diukur terhadap ketahanan pada suhu ruangan. Yang pertama adalah orang yang gak kuat dingin, yang kedua adalah yang sebaliknya, gak kuat pada suhu “agak gerah”. Karakteristik golongan ketiga adalah yang manut aja, mau dingin hayok, mau gerah2an juga hayok. Permaslahan ny, yang inisiatif meminta menaikkan atau menurunkan suhu AC adalah kedua orang ini yang kebetulan gak akur.😅

Udah gitu keduanya adalah golongan extrimist. Yang satu gak kuat kalo ac dibawah 25-26. Yang satunya lagi, maunya diangka 20-21. Jadi tidak pernah ada yang minta diantarnya.

Orang yang gol 2 kebetulan dominan, sehingga yang gol 1 ngalah aja walaupun dalam hati ngedumel. Kalo gol 1 diem2 minta AC dinaikin suhunya, si gol 2 bisa tiba2 nyemprot dan minta AC diturunin lagi. Gitu aja terus smpai lebaran kuda. 

Dalam teori ekonomi publik, kantor adalah common good. Jdi barang ini bisa diakses bersama, yang mana kalau pemanfaatnya ditambah disalah satu pengguna, akan mengurangi manfaat bagi yang lain. AC juga common goods. Beda dengan private goods, itu barang gua dan lo gak berhak menggunakannya. Misalnya suami atau rumah kita yang orang gak boleh sentuh. Atau public goods, yaudah sih ini barang bersama dan pemberian Tuhan, mau diapain pun gak akan habis juga kan? (mis udara dan sinar matahari).

Karena karakteristiknya itu, common goods ini sering memicu pertengakaran  karena ada yang merasa “kesejahteraan”nya direbut orang lain. Bahasa kerennya the tragedy of commons. Makanya, setiap keputusan diambil selalu mencari titik efisien : its okay sepihak better tapi at least yang lain gak merugi.

Tapi yang menjadi masalah adalah kehadiran golongan kuat/dominan yang sebenernya jumlahnya sedikit, tapi mampu mngerahkan kelompok yang jumlah nya besar tapi berprinsip “ikut aja” atau free rider. Akan selalu ada extremist dalam sebuah kelompok – dan jumlahnya kecil. Sayangnya selalu ada kelompok yang jumlahnya banyak namun ya itu, bisa di setir. Golongan kuat ini ntah gimna caranya bisa mempengaruhi kebijakan para pembuat dan penegak hukum, sehingga lagi2 yang kuat makin mendominasi. Dan sekali lagi, kelompok yang jumlahnya besar tapi ngikut aja itu akhirnya cuma pasrah dan nurut.

Nah kebetulan di negara ini, mayoritas penduduk adalah kelompok “hayok ikut aja”. Kalo dipetakan secara profile kepribadian, didominasi oleh kelompok plegmatis :  menghindari konflik. Makanya ikut aja, yang penting aman, damai. Gak ngerti, culturenya emang gitu atau ada unsur agama yang menancap begitu dalam :  melawan orang tua, (termasuk yang dituakan) adalah pamali. Jadi, ya ikut ajaaaa.

Dampaknya? Kok bisa ya kita disetir kelompok yang jumlahnya gak bnyak, gak berduit juga, atau gak suci juga. Presiden juga nggak, cuma mantan. Artis juga nggak, cuma dosen biasa yang kebetulan bisa edit video.

Bahkan dilingkungan korporasi yang profesional pun demikian. Akan selalu ada keputusan yang sebenernya gak memihak pada kesejahteraan bersama (bahkan menguntungkan segelintir orang) akhirnya dibuat karena 3/4  atau 5/8 orang memilih ikut aja dan cari jalan damai. 

Lalu ketika kebijakan kacau dan terbukti merugikan, sebagian besar menyelamatkan diri dengan :  kan bukan gua yang ambil keputusan. Eh gua gak ikut loh. Eh kmren gua gak stuju loh ya. Tapi ketika mengutungkan : gua juga support kok, dari jauh, dalam doa dan diam, ya hanya Tuhan lah yang tau.

Eh AC di kantor sebenernya bisa cukup adil (gak terlalu dingin atau gerah) kalo yang lain ngasi masukan standar yang pas. Tapi daripada berantem, yaudah saling liat2an aja kalo ada yang menggigil dan kegerahan.

Advertisements