Ada atasan yang pernah pointed kayak gini : “Udah, kamu diem aja ya. Kamu catat apa yang saya katakan!”. Ada atasan yang itu bukan kesalahan kita sebernnya, salah staff dia, tapi dia butuh kambing hitam buat membenarkan diri didepan khayalak, dan pointed kita bahwa itu kesalahan kita. Ada. Dan gua mengalaminya.

***

Major issues dalam sebuah organisasi selain produktifitas dan performance (kinerja) pegawai adalah leadership. Baru-baru ini kebetulan di perusahaan tempat saya bekerja sedang mereview beberapa regional yang membukukan angka kurang maksimal, gak seperti region lain. Setelah dipelajari, ternyata masalahnya ada dua. Yang pertama, jumlah pegawai yang pengalamannya kurang dari 3 bulan menguasai setengah populasi. Yang kedua adalah leader (dan leadershipnya).

Di dunia collection, pengalaman atau jam terbang memang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan yang sangat kompleks – harus mampu memenangkan sebuah negosiasi yang alot dengan nasabah, supaya akhirnya mau bayar. Semakin banyak jam terbang, semakin banyak nasabah yang pernah ditangani. Dengan demikian akan semakin banyak contoh kasus yang pernah dihandle, sehingga semakin cakap dalam menguasai lapangan. Jadi, gak heran, apabila setengah populasi sebuah organisasi adalah collector yang memiliki pengalaman kurang dari 3 bulan, berakibat pada pencapaian yang kurang baik.

Ya tapi semua orang start dari nol bukan? An expert pun once adalah an amateur. Bagaimana dia akan berkembang jika tidak diberi kesempatan untuk belajar? Kalau diawal membuat kesalahan atau tidak achieve dan langsung diterminate, lalu sampai kapan dia menjadi bisa?

Disinilah dibutuhkan leadership. Diregion ini, memang ada team leader yang sehari2 memonitor collector. Namun posisi leader yang cakap – on site sedang vacant. Memang dibantu kok dengan leader yang cakap dari pusat yang sehari-hari juga memonitor. Tetapi ternyata gak cukup. Diperlukan leader yang gak cuma memonitor dan sekedar menyelasaikan tugas. Tapi lebih kepada membimbing, mengajari, turun ke lapang untuk melihat masalah yang ada, serta “sosok” untuk diteladani.

***

Mengetahui permasalahan ini membuat saya merefleksikan pada diri saya sendiri. Saya sama seperti collector yang baru bergabung dalam sebuah organisasi. Bukan cuma no skill, tapi juga gak punya basic knowlegde mengenai collection. Jangankan membuat sebuah materi presentasi dan analisa untuk strategi, pivot table aja gak ngerti, mengganti warna chart aja mesti buka smua menu di toolbar.

Tapi saya beruntung punya Boss yang saya sebut namanya di atas. Meskipun dateng dengan pengetahuan dan skill yang noll besar, pelan-pelan saya diberi tanggung jawab untuk memperbesar kapasitas saya. Masalahnya, kalau pada masa crisis, in urgently needed mode, peer banget gak sih menunggu seseorang yang masih belajar tertatih-tatih untuk menyelesaikan tugas? Ih, kalau saya mah, saya udah ambil alih itu kerjaan, diselesaikan sendiri, lalu saat gak mendesak aja baru kasih kerjaan ke orang tersebut sampai dia bisa kerja cepat. Tapi Boss saya tidak melakukan itu. Dengan sabar Dia menunggu sampai hasilnya selesai, meskipun konsekuensinya banyak waktu yang terbuang dan harus pulang lebih malam.

Lalu, Boss saya ini sebenernya tahu kalau diawal saya gak bisa excel, tapi lagi-lagi Dia cukup percaya untuk membawa saya kemana-mana untuk meeting depan petinggi seperti Direktur dan Komisaris. Lalu ditengah2 meeting tiba2 ada permintaan untuk menampilkann dan mengolah data saat itu juga di depan khayalak dengan mata tertuju pada layar? Eng ing eng. Dengan segala kekagokan dan kelambatan saya, Boss support sambil membisikkan pelan2 step by step. Padahal si Bapak punya bawahan yang ahli dan tangannya udah lihai menari2 mengolah angka loh, tapi next time meeting, masih diberi kesempatan lagi.

Dan ditengah proses pembelajaran itu, saya masih sering melakukan kesalahan. Masih dengan typo dan penyajian angka yang salah. Parahnya kalau sudah salah hitung. Tapi, gak pernah sekalipun Boss saya ini memarahi saya apalagi mempermalukan saya seperti Atasan lain. Seperti yang saya ceritakan di awal. Gak pernah blaming nama saya untuk mempertahankan kredibilitas nya. Gak pernah berhenti dan give up on me supaya kerjaan cepat dan akurat. Gak pernah.

***

Dari sekian banyak training dan buku leadership yang saya baca, dari sekian banyak leader atau Atasan yang saya kenal, dari Bapak  ini saya pemebelajaran mengenai leadership yang satu ini yang paling membekas.

“Masalah membangun sebuah organisasi berarti membangun manusia, people, di dalamnya. Tapi people adalah given. Untuk membentuknya menjadi sumberdaya berharga bagi bisnis, perlu jam terbang dan tanggung jawab untuk melatih dan memperbesar kapasitasnya. Perlu kesabaran untuk menunggunya sampai bisa menyamakan langkah. Perlu kepercayaan dan kebesaran hati untuk tetap memberikan kesempatan baru atas segala kemungkinan kesalahan yang akan muncul selama proses pembelajarannya. Perlu waktu dan banyak yang dikorbankan. Meskipun itu taruhannya adalah kredibilitas atau nama baik “.

Lalu apa lagi yang saya bisa katakan? Terima kasih pun tak cukup untuk membalas semua kebaikan yang terima dari Beliau. Tapi semoga suatu saat ketika menjadi leader, saya bisa menjiplak cara Beliau dan memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama : memberikan kepercayaan, menunggu dengan sabar, melindungi kalau ada yang salah.

Bapak, good luck di tempat baru ya.. I’m gonna miss you.

Advertisements