Sebuah Pendekatan Ekonomi Keyenessian Model

You leave home to seek your fortune and, when you get it, you go home and share it with your family. Anita Baker

Merantau itu berat. Kamu harus pergi meninggalkan keluarga yang paling kamu kasihi untuk berjuang, mencari peruntungan jauh di sana, dengan harapan bisa membawa kebahagian bersama keluarga.

Satu hal yang membingungkan mengenai hidup memang. Mengapa harus berpisah untuk mencari kebahagiaan, jika kebahagiaan itu sendiri adalah keluarga yang sebenernya yang kamu perjuangkan? Maksudnya, ironis gak sih? Kamu berjuang agar keluarga mu bahgia tapi konsekuensinya kamu harus meninggalkan keluarga supaya keluarga kamu bahagia?

***

Setelah teori ekonomi klasik Adam Smith ternyata dinilai gagal ketika U.S mengalami depresi, John Maynard Keynes hadir dengan deklarasinya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan dengan sendirinya. Keynes mengatakan bahwa agar efektif, perlu campur tangan/intervensi pemerintah dalam mengatur supply dan demand secara agregat. Termasuk aliran uang. Pandangan keynesian yang cukup menarik mengenai uang dijelaskan sebagai berikut :

Setiap orang memiliki pilihan terhadap uang; apakah uang disimpan atau ditahan dalam bentuk persedian cash atau digunakan untuk hal-hal lain, seperti deposito atau saham agar ada bnga di kmudian hari, dipinjamkan atau diputar untuk modal usaha sehingga harapannya suatu saat akan memberikan “return” yang lebih besar.

Kalau kita simpan dalam bentuk cash, maka bisa digunakan dalam transaksi sehari-hari. Atau just in case ada kejadian yang gak diinginkan, maka bisa digunakan saat itu juga. Atau kalau tiba2 ada sales tas bagus dateng ke rumah dan kebetulan ada uang tersedia maka bisa beli saat itu juga. Beda hal nya kalau kita simpen uang dalam deposito. Katakanlah di Bank Mega tempat saya bekerja, bunga nya 7.75%. ya daripada duit didiemin, kan lebih untung kalo disimpan dalam deposito. Apalagi kalo diputer buat usaha. Returnnya akan lebih besar pastinya. Memang ada risiko nya. Beberpa orang lebih memilih menahan uang karena gak bisa menerima risiko kehilangan uang meskipun tau sebenernya ada peluang bhwa uang tersebut akan memberikan return yg leih besar kalo diputer. Ini juga yang diterapkan oleh pengusaha2, yang kurang suka beli barang kontan. Lebih senang nyicil, karena dRi pada kehilangan duit yang besar sekaligus, besok gak punya uang buat modal beli bahan baku, ya mending bli nyicil. Masih ada sisa anggaran kalo besok tiba2 ada mo bli bahan. Konsekuensinya memang bunga pinjaman. Tapi kalo dihitung dengan cermat, bunga gak seberapa sih dibandingkan return kalo duit dialokasikan ke hal lain.

***

Konsep menahan vs mengalokasikan uang tersebut agak mirip dengan melepaskan anak untuk merantau. Mama saya Osda Situmorang pernah ngomong kayak gini :

“Sebenernya karena cinta mama pada kalian, mama pengen kalian itu di depan mama terus. Tapi kalau mama menahan kalian disini dan kalian gak berkembang kan itu artinya egois. Cinta yang egois. Lebih baik mama melepas kalian merantau agar kalian punya masa depan. Walaupun sedih tapi itulah wujud cinta mama. Kan cinta butuh pengorbanan. Makanya cinta itu tak harus selaku memiliki.”

Tadi mama nelpon. Lagi sakit. Kepikiran sama adek yang dipanggil Tuhan . Kalo kayak gini sebnernya sering kepikiran pengen balik ke kampung aja biat bisa nemenin mama. Ya tapi kalo di kampung gua gak bisa berbuat banyak juga kan? Kalo disni masih ada yang diperjuangkan dan diraih, dengan harapan memperoleh “return” yang lebih besar baik untuk diri, kluarga atau orang lain dri pada hanya sekedar dirumah. Dikampung.

Ya ini memang dilema dalam menghadapi suatu kondisi keterbatasan. Keterbatasan waktu maupun akses terhadap sumberdaya. Karena terbatas itu harus ada pilihan : pilih yang risiko kecil tapi gainnya juga kcil, atau sebaliknya, risiko besar tapi gainnya may be much bigger?

Uang kalau dilepas mungkin akan  memberikan return yang jauh lebih besar dibandingkan jika sekedar ditahan. Ya begitu pun melepaskan anak ke dunia perantauan.

Kata Kahlil Giban :

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir lalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.

Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur busur tempat anakmu menjadi anak anak panah yang siap dikuncurkan.”

***

Ah Inong, cepatlah kau sembuh. Tetaplah bercahaya se -semangat cahaya matahari pagi.  Supaya kami semangat berjuang di sini. Membalas cinta mu yang begitu tulusnya, merelakan hati mu perih hanya agar kami memiliki masa depan yang indah.

Advertisements