Saya sedang maksakan untuk membuka diri pada genre baru. As it is said sama orang bijak, dont settle for less. Never stuck with one thing only. Dunia menawarkan banyak hal untuk dipelajari, many things need to be discovered more.

Judul dan isi nya berat. Melihat buku ini, ada temen yang godain. Katanya, awas sesat Shar!

Baru di halaman awal, ada statement yang menarik dari Karen Amstrong, sang penulis. Katanya, neraka seperti apa menjadi lebih mudah dipahami karena punya penjelasan yang imajinatif – bisa dibayangkan -sehingga lebih menakutkan dibandingkan dengan Tuhan, karena hanya merupakan figur yang dijelaskan secara abstraksi intelektual. Lebih ke konsep yang “kemahaan-Nya”.

Kalau dipikir-pikir benar juga. Bagaimana kita bisa membayangkan Tuhan jika Dia bisa hadir dalam kilat dan guntur penuh murka tetapi juga awan yang lemah lembut memberikan kesejukan? Bagaimana mungkin “unsur” seperti itu mampu turun tangan membantu persoalan manusia di Dunia? Apakah wujud itu bisa membebaskan saya dari penyakit atau persoalan sederhana – seperti patah hati ditinggal orang yang saya cinta sampai pada hal kebangkrutan dan hutang dimana-mana? Saya adalah manusia yang butuh sesuatu yang lebih kekal dan tak terbatas, namun cukup bisa diterima akal – atau setidaknya imajinasi untuk tetap melanjutkan hidup. Ya kalau hanya digambarkan dengan angin, kilat, awan itu memang akan menimbulkan bias pemahaman bagaimana Tuhan itu. Apakah memang hanya konsep? Bagaimana dengan kepribadianNya? Punya kah? Punya emosikah? Mengerti kah akan hati manusia?

Pemikiran ini kemudian menghantarkan saya pada pemahaman yang diajarkan pada saya. Di agama yang saya yakini, kebingungan dan kesamaran akan Tuhan ini lah yang ternyata menjadi dasar kehadiranNya dalam wujud manusia, yang dikenal dengan Yesus – Isa. Karena manusia menjadi bingung dengan : seperti apa Tuhan itu, bagaimana saya harus membayangkannya, apakah Dia memahami manusia? Apakah Dia bisa merasakan emosi? Bagaiman figur dan kepribadianNya? Bagaimana mungkin awan atau halilintar memhami kegundahan atau peliknya persoalan hidup manusia? – lah yang menjadi dasar hadirnya Dia dalam rupa yang bisa dekat dngan manusia, paling memahami dan dipahami oleh manusia itu sendiri. Ya apalagi kalo bukan menjelma menjadi manusia itu sendiri? Akan lebih mudah memang membayangkan Tuhan kalau Dia adalah seperti diri kita yang dekat dalam sebuah pribadi. Akan lebih imajinatif dan membuat dekat jika ternyata Tuhan punya unsur dan emosi seperti diri sendiri.

Hanya, karena keterbatasan gerak dan lingkup manusia lah Dia harus mati dulu -tetapi bangkit – dan turun kembali, kali ini ini menjelma dalam bentuk roh agar kita tidak membatasi kehadirannya dalam fisik (yang tak bisa melintasi ruang dan waktu itu). Bentuk nya yang dalam roh ini pula yang membedakannya dengan agama pagan yang bersifat teritorial : satu tuhan hanya memiliki yurisdiksi atas suatu kawasan tertentu – tuhan di zona A taou belum tentu bisa jadi tuhan di zona B. Jika dia hanya dalam wujud manusia, bagaimana mungkin Dia bisa hadir di Asia sementara hadir pula di Eropa? Roh ini, wujud yang tak terbatas ini pula yang yang selalu ikut dengan manusia dan memberikan semacam “kekekalan” dalam hati manusia karena dia tidak dibatasi watu dan ruang.

Tetapi, melihat kehadiran dan Tuhan memang tidak mudah jika tidak mempelajari dan mengalaminya (experiencing God). Karena itu lah manusia perlu ritual agama seperti berdoa dan mempelajariNya agar semakin memahamiNya. Tetapi manusia juga perlu hidup dengan segala keindahan dan kepahitannya agar mengalami kedaulatan dan kekuasanNya. Ketika tak ada satu jalan pun yang bisa dipikirkan oleh akal manusia, namun tiba-tiba ada jalan keluar, disitu kita tahu ternyata ada yang turut bekerja!

***

Sebuah pengantar. Diakhir, masih ada sesi Kematian Tuhan? Dan Adakah Masa depan bagi Tuhan? – yang dijelaskan oleh Karen di bukunya. Sepertinya menarik, karena baru pendahuluan saja sudah memancing saya buat berpikir berhari-hari.  Semoga segera menyelesaikan nya sehingga bisa membagikannya kembali.

Advertisements