Pernah dengar lagu I Will Always Love You – Whitney Houston? Lagu ini tadinya ditulis oleh penyanyi senior Dolly Parton di 1974 dan menduduki puncak tangga lagu Billboards yang dituliskan untuk perpisahan sahabat yang sekaligus partner dan mentornya selama 7 tahun. Tahun 1992, lagu ini dinyanyikan kembali oleh Whitney Houston dengan versinya RNB – ballad dengan bantuan komposer ternama David Foster untuk soundtrack Film The Bodyguard, yang bukan saja membuat film itu menjadi lebih bagus tetapi bahkan membuat rekor baru dengan menduduki tangga lagu Billboard kembali selama 14 minggu berturut-turut! 

and I will always love you…

Film The Bodyguard ini menceritakan seorang artis ternama (yang diperankan oleh Whitney Houston) yang sedang naik daun membutuhkan kehadiran seorang pengawal/ bodyguard untuk menemaninya kemanapun dia pergi, baik itu menyanyi dipanggung, di keramaian, bahkan ketika bepergian. Sang bodyguard diperankan oleh Kevin Costner yang cool, yang setia menemani sang majikan kemana pu pergi. Konflik ceritanya adalah beberapa kali sang artis diincar oleh seorang pembunuh, bukan hanya ketika manggung tetapi juga saat liburan, dan sang bodyguard harus terluka demi melindungi sang majikan. Kedekatan mereka akhirnya membuat mereka saling mencintai, terutama ketika sang bodyguard akhirnya tertembak ketika melindungi sang majikan. Memang sang bodyguard akhirnya sembuh, tetapi cinta mereka tidak dapat diteruskan demi kebaikan bersama. Sang artis dengan karir nya, sang bodyguard dengan profesinya. 

so goodbye, please don’t cry. we both know I’m not what you need. 

Akhir ceritanya yang cukup mellow adalah perpisahan keduanya yang tak terelakkan lagi. Sang artis melanjutkan kehidupannya sebagai artis dan sang bodyguard secara profesional harus menjadi bodyguard lagi, tetapi tidak lagi bersama sang artis, melainkan untuk majikan lain yang akan menyewanya dalam jangka waktu tertentu. Bagaimana dengan cinta mereka? Mau tidak mau harus dilupakan dan dikubur dalam-dalam.

***

Bagi saya pribadi, lagu ini sangat berkesan karena beberapa kali mengalami hal yang mirip dengan cerita The Bodyguard. Pernahkah Anda harus membunuh perasaan cinta Anda, melupakan, dan kemudian pergi atau membiarkan sesorang pergi dari kehidupan Anda karena tidak bisa diteruskan lagi? Tidak mungkin bersama karena jika dipaksakan, maka kalau bukan Anda, dia yang akan mengorbankan mimpi dan hidupnya agar kalian bersama. Dan Anda tidak mau seperti itu. Memang bukan cinta namnya kalau tidak ada pengorbanan, tetapi Anda sendiri pun merasa Anda tidak cukup pantas sebenarnya diperjuangkan kalau sampai Dia mengorbankan hidup dan mimpinya. Sebaliknya Anda, dengan rasionalitas juga berpikir, akan kah apa yang akan Anda gain nantinya bersama dengannya akan sebanding dengan cost yang Anda korbankan karena memutuskan mengalah- meninggalkan mimpi dan kehidupan Anda demi dirinya? 

Bayangkan saja, Anda akhirnya menemukan seseorang yang sudah match dengan kriteria yang Anda buat, dia memiliki sesuatu yang Anda cari-cari, dan idea about him sangat ideal dengan imajinasi Anda. Tetapi bukan hanya itu, ntah mengapa, setiap kali Anda berbicara dengannya ada perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Ada perasaan yang begejolak di perut dan di dada setiap kali menatap matanya. Bahkan seperti orang bodoh, Anda tak sadar cengar cengir sendiri ketika mengingatnya, dan sering terjaga di malam hari karena memikirkannya. 

Tetapi, Anda tidak mungkin membiarkan dia meninggalkan keluarganya yang bergantung penuh padanya hanya karena memperjuangkan Anda, sementara Anda tak mungkin meninggalkan masa depan yang Anda pilih hanya untuk bersama nya. Anda tak mungkin membiarkan dia menginggalkan apa yang sudah dia bangun dari awal, begitu juga sebaliknya Anda tidak mungkin meninggalkan apa yang Anda cintai tentang kehidupan Anda. Tak hanya itu, dia yang sudah berumur dan memiliki waktu yang terbatas akan sangat disayangkan jika harus membuang waktu yang lebih lama demgan percuma karena Anda juga sadar bahwa Anda belum begitu yakin dengan segala konsekuensi yang akan ada di depan. 

I hope life treats you kind, and I hope you have all you’ve dreamed of. and I wish to you, joy and happiness. but above all this, I wish you love…

Akhirnya, dengan sangat tersiksa, Anda memutuskan untuk pergi atau membiarkan nya pergi. Lebih baik sekarang ini disaat cinta masih bersemi dan kisah begi indah, dibandingkan nanti, ketika segala sesuatu nya menjadi terlalu dalam dan sulit untuk diakhiri. 

***

Apa yang kemudian terpikirkan oleh saya adalah : apakah cinta menuntut harga sedemikian besarnya? Apakah rasionalitas dan cinta akan berperang sedemikian hebatnya? Akan sampai kapankah akan begitu terus?

***

Namun,

suatu hari, tiba-tiba seseorang mengirimkan gambar yang diambil dari beberapa lembar buku yang berjudul This is Me Letting You Go. Ada tiga halaman yang diambil dengan sub judul tulisan : The Truth About Meeting Someone at The Wrong Time. Katanya :

Pernahkah Anda mengalami saat dimana ketika Anda bertemu dengan seseorang beberapa bulan ketikaAnda memutuskan untuk menempuh study di luar negeri? Pernahkah Anda menjadi begitu dekat dengan seseorang yang (sialnya) ternyata sudah taken? Atau pernahkah Anda menemukan orang yang terlalu cepat menjadi serius atau sebaliknya belum serius sama sekali?

Pertanyaanya, kenapa waktunya sering sekali tidak pernah tepat? Ah, andai saja dia datang setahun lagi. Ah andai saja kami bertemu di usia 24. Ah andai saja dia bersabar sedikit lagi menunggu aku sampai benar-benar siap. Kenapa permasalahannya selalu terbentur dengan waktu? 

Time is a bitch! Begitu katnya. Tetapi ini adalah kenyataan sebenarnya : The people we meet at the wrong time are actualy just the wrong people! 

Sejatinya, orang yang tepat tidak akan mungkin datang disaat yang tidak tepat, karena the right people are timeless. 

Tak peduli kapan bertemunya, akankah itu 5 tahun lagi, setahun atau seminggu dari sekarang ini. Tidak masalah. Tetapi yang jelas, ketika kalian bertemu, sesaat itu juga kalian akan merasa : ini adalah waktunya! It’s just feels damn right! 

Orang yang tepat akan membuat kita tetap menajalankan rencana kita di awal. The right people akan encourage you : to try harder, dream bigger, do better ! Mereka akan memunculkan sisi yang paling menakjubkan dari dirimu sendiri. And by default, orang yang tepat itu sudah berjalan seharusnya dengan rencana kita. 

Tetapi, kalau pun akhirnya kita harus menyesuaikan atau bahkan mengubah mengubah rencana kita pada akhirnya, kita tidak mempermasalahkan nya lagi karena kita yakin dengan nya. Kita percaya apa yang akan kita alami nantinya jauh lebih menyenagkan dibandingkan dengan rencana awal. Kita tidak akan menyesali apapun dikemudian hari, karena semua akan menjadi lebih baik bersamanya dibandingkan tanpa nya. 

Waktu mungkin akan mengakhiri hubungan kita. Tapi waktu yang tepat pula yang nantinya akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat.

Jadi mungkin, bukan karena mengapa Saya harus mengakhiri hubungan hanya karena peoerangan antara rasionalitas dengan cinta. Bukan karena mengapa cinta harus dikorbankan demi mimpi dan hidup. Bukan karena mengapa Dia tidak bisa sedikit saja meyakinkan saya sehingga nantinya saya akan luluh dengan sendirinya mengorbankan mimpi saya demi dia. Bukan. Ya memang karena dia bukan orang yang tepat ! Itu saja.

***

Oh iya, saya lampirkan tulisan aslinya di sini ya. 

Advertisements